Jakarta – Empat emiten BUMN Karya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia membukukan total rugi bersih lebih dari Rp25 triliun sepanjang tahun buku 2025. Kerugian tersebut berasal dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT).
Berdasarkan laporan keuangan masing-masing perusahaan, total kerugian mencapai sekitar Rp25,57 triliun, dengan rincian:
•WIKA: rugi bersih Rp10,18 triliun.
•PTPP: rugi bersih Rp6,07 triliun.
•ADHI: rugi bersih sekitar Rp5,40 triliun.
•WSKT: rugi bersih Rp3,92 triliun.
Dari keempat perusahaan tersebut, WIKA menjadi penyumbang kerugian terbesar. Perseroan membukukan rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp10,18 triliun, meningkat tajam dibandingkan kerugian tahun sebelumnya. Kinerja itu dipengaruhi turunnya pendapatan serta lonjakan beban usaha dan beban lainnya.
PTPP juga mencatatkan tekanan berat. Meski masih mengerjakan berbagai proyek strategis nasional, perusahaan membukukan rugi bersih Rp6,07 triliun, terutama akibat penurunan nilai aset (impairment) yang mencapai sekitar Rp7,35 triliun.
Sementara itu, ADHI membukukan rugi bersih sekitar Rp5,4 triliun, sedangkan WSKT mencatat rugi bersih Rp3,92 triliun, naik sekitar 51,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya akibat penurunan pendapatan dan tingginya beban keuangan.
Besarnya kerugian empat BUMN Karya tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah melalui BPI Danantara mempercepat langkah penyehatan dan restrukturisasi sektor konstruksi pelat merah.



