JAKARTA SELATAN — The Atjeh Connection resmi membuka cabang terbarunya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026). Ekspansi ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan kuliner Aceh sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Berlokasi di Adotel, Jalan Tebet Timur Dalam Raya, kehadiran gerai ini memperkuat posisi The Atjeh Connection sebagai jaringan restoran dan kafe yang mengusung cita rasa khas Aceh di sejumlah kota di Indonesia.
Founder The Atjeh Connection, Amir Faisal, mengatakan pengembangan usaha tersebut tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga membawa misi memperkenalkan identitas Aceh melalui makanan dan minuman khasnya.
Menurut Amir, kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sejarah, tradisi, dan karakter masyarakat Aceh kepada orang-orang yang belum pernah berkunjung ke Serambi Mekkah.
“Kami tidak ingin The Atjeh Connection hanya dikenal sebagai tempat makan. Kami ingin setiap konsumen yang datang membawa pulang cerita tentang Aceh, tentang rasanya, tentang budayanya, dan tentang Aceh menjadi bagian penting dari Indonesia,” ujar Amir.
Kopi Sanger Jadi Ikon Diplomasi Kuliner
Salah satu produk andalan The Atjeh Connection adalah kopi sanger, minuman khas Aceh yang memiliki akar kuat dalam tradisi masyarakat setempat.
Melalui pengembangan jaringan gerai di berbagai kota, kopi sanger diperkenalkan kepada konsumen dari latar belakang yang beragam. Bagi Amir, minuman tersebut bukan sekadar produk komersial, melainkan representasi budaya ngopi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.
Ia menilai, pengalaman menikmati kopi dan makanan khas daerah dapat membangun ketertarikan masyarakat terhadap kebudayaan yang lebih luas.
“Kita bisa bicara tentang Aceh kepada orang yang belum pernah datang ke Aceh melalui makanan. Dari kopi Gayo, bicara tentang budaya. Dari budaya, mulai tertarik dengan sejarah dan masyarakatnya sampai kepada ekonomi dan sosial. Itu yang kami sebut sebagai diplomasi kuliner,” katanya.
Selain kopi sanger, The Atjeh Connection memperkenalkan beragam hidangan khas Aceh, mulai dari mi Aceh, ayam tangkap, sie reuboh, kuah belangong, kari kambing, hingga berbagai makanan tradisional lainnya.
Dari Bisnis Lokal Menuju Pasar Global
Amir mengatakan, perjalanan The Atjeh Connection bermula di Jakarta sebelum berkembang ke sejumlah kota, termasuk Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan Tangerang.
Ekspansi tersebut menjadi langkah untuk memperluas pasar sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Aceh kepada masyarakat di luar daerah asalnya.
Ia berharap, pengembangan jaringan restoran ini dapat menjadi fondasi untuk membawa makanan khas Aceh ke pasar internasional.
“Ini bukan garis akhir. Justru ini menjadi titik untuk melihat sejauh mana kuliner Aceh bisa berjalan lebih jauh. Indonesia adalah rumah besarnya, tetapi kami ingin suatu hari kuliner Aceh bisa hadir di berbagai kota dunia,” ujar Amir.
Menurutnya, kuliner memiliki keunggulan sebagai sarana diplomasi budaya karena memungkinkan masyarakat mengenal suatu daerah melalui pengalaman langsung.
Dari secangkir kopi hingga hidangan tradisional, masyarakat dapat mengenal cita rasa, tradisi, dan sejarah yang membentuk identitas sebuah daerah.
Aceh sendiri memiliki sejarah panjang dalam perdagangan dan interaksi dengan berbagai bangsa. Warisan tersebut dinilai menjadi modal budaya untuk memperkenalkan Aceh melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat modern.
Memperkenalkan Aceh Melalui Meja Makan
The Atjeh Connection memandang pengembangan kuliner sebagai bagian dari upaya memperluas pengenalan budaya Aceh di tingkat nasional dan internasional.
Amir menilai, keberhasilan usaha tidak semata-mata diukur dari jumlah gerai yang dibuka, tetapi juga dari sejauh mana kuliner Aceh dapat dikenal dan dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas.
“Diplomasi tidak selalu dimulai dari ruang konferensi. Bisa dimulai dari meja makan. Ketika orang menikmati kopi sanger atau makanan Aceh, sebenarnya kita sedang membuka pintu percakapan tentang Aceh dan Indonesia,” tuturnya.




