Jakarta – Sultan Hassanal Bolkiah kembali menjadi sorotan dunia setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-80 pada 15 Juli 2026. Momen tersebut dirayakan dengan parade kenegaraan yang megah di Bandar Seri Begawan dan dihadiri ribuan warga Brunei. Di usia 80 tahun, Sultan Hassanal Bolkiah masih menyandang status sebagai raja yang paling lama berkuasa di dunia, setelah memimpin Brunei sejak 5 Oktober 1967.
Naik takhta pada usia 21 tahun menggantikan ayahnya, Sultan Omar Ali Saifuddien III, Hassanal Bolkiah menjadi Sultan ke-29 Brunei. Sejak Brunei merdeka dari Inggris pada 1984, ia juga menjabat sebagai Perdana Menteri, Menteri Pertahanan, Menteri Keuangan dan Ekonomi, serta Menteri Luar Negeri, menjadikannya salah satu pemimpin dengan kewenangan paling besar di dunia.
Di bawah kepemimpinannya, Brunei berkembang menjadi salah satu negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di Asia berkat pengelolaan cadangan minyak dan gas bumi. Kekayaan tersebut dimanfaatkan untuk menyediakan berbagai fasilitas bagi rakyat, mulai dari pendidikan gratis, layanan kesehatan tanpa biaya, hingga subsidi perumahan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok. Sistem pajak penghasilan pribadi juga nyaris tidak diberlakukan bagi warga negara.
Kesuksesan Brunei juga tercermin dari stabilitas ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang relatif tinggi. Negara berpenduduk sekitar 450 ribu jiwa itu memiliki tingkat kemiskinan yang rendah dan cadangan devisa yang kuat, meski dalam beberapa tahun terakhir pemerintah terus mendorong diversifikasi ekonomi agar tidak hanya bergantung pada sektor energi.
Selain dikenal sebagai pemimpin yang berpengaruh, Sultan Hassanal Bolkiah juga termasuk salah satu kepala negara terkaya di dunia. Kekayaannya diperkirakan mencapai sekitar US$50 miliar, dengan Istana Nurul Iman yang menjadi istana hunian terbesar di dunia serta koleksi ribuan mobil mewah yang telah lama menjadi perhatian internasional.
Meski kerap menjadi sorotan karena gaya hidup kerajaan yang mewah, Sultan Hassanal Bolkiah tetap mempertahankan stabilitas politik Brunei selama hampir enam dekade. Hingga kini, ia masih menjadi simbol persatuan negara sekaligus salah satu monarki absolut yang masih bertahan di era modern.





