Ekonomi

Ekonom Ramal Ekspor RI Melambat di 2023, Surplus Perdagangan Turun – Kabar Ekonomi

0



Jakarta, SIARKABAR.com

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memprediksi ekspor Indonesia bakal mengalami perlambatan pada 2023 sehingga berdampak terhadap penurunan surplus perdagangan.

Faisal menyebut tahun ini Indonesia mengalami surplus perdagangan yang paling tinggi sepanjang sejarah. Ia memprediksi Indonesia bakal tetap mengalami surplus pada 2023, hanya saja lebih sempit dibandingkan tahun ini.

“Ekspor mulai melambat tahun depan dan efeknya surplus perdagangan itu juga menyempit. Dari sisi surplus perdagangan, ekspor ini ada tekanan global karena beberapa negara tujuan ekspor utama kita, seperti AS dan Eropa, diprediksi lebih rendah pertumbuhan ekonominya,” kata Faisal dalam CORE Economic Outlook 2023: Harnessing Resilience against Global Downturn, Rabu (23/11).

Meski begitu, Faisal mengatakan bahwa tren yang terjadi belakangan ini tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan ekspor Indonesia. Ia mencontohkan krisis energi dan perlambatan permintaan domestik di Uni Eropa justru membuat permintaan batu bara meningkat.

Batu bara dianggap sebagai pilihan energi yang lebih murah. Sehingga, dalam track record ekspor Indonesia tetap mengalami peningkatan ke Uni Eropa, salah satunya ditopang oleh ekspor batu bara.

Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo menjelaskan batu bara masih akan menjadi penyumbang pendapatan negara tahun depan.

“Pemerintah harus mengelola pertambangan batu bara yang notabene di Indonesia mencapai ratusan bahkan ribuan, berbeda dengan negara eksportir lainnya. Sehingga saya melihat di 2023 pemerintah masih akan didukung tinggi atas penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan pajak lainnya dari batu bara,” katanya.

Singgih mengamini pernyataan Faisal, ia melihat batu bara akan ditempatkan sebagai komoditas pada tahun depan dengan tujuan mendorong pendapatan negara di saat harga komoditas tinggi.

Sebelumnya, BPS mencatat ekspor Indonesia per Oktober 2022 naik 0,13 persen ke US$24,81 miliar dari bulan sebelumnya sebesar US$24,78 miliar. Jika dibandingkan Oktober 2021, nilai ekspor RI naik 12,30 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto merinci capaian ekspor Indonesia pada bulan ini yang ikut menyumbang surplus US$5,67 miliar atau setara dengan Rp88,25 triliun (asumsi kurs Rp15.565 per dolar AS) secara bulanan pada Oktober 2022.

“Jadi neraca perdagangan mencatat surplus sebesar US$5,67 miliar. Jadi neraca perdagangan sampai Oktober 2022 ini membukukan surplus selama 30 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” papar Setianto dalam konferensi pers, Selasa (15/11).

Kinerja meningkat karena ekspor minyak dan gas (migas) naik 4,93 persen dari bulan sebelumnya yang US$1,31 miliar menjadi US$1,38 miliar. Namun, ekspor nonmigas turun 0,14 persen dari US$23,47 miliar menjadi US$23,43 miliar.

Peningkatan ekspor migas disebabkan oleh meningkatnya ekspor hasil minyak 9,02 persen menjadi US$324,6 juta dan gas 8,34 persen menjadi US$921,2 juta. Kendati demikian, ekspor minyak mentah turun 20,43 persen menjadi US$129,3 juta.

[Gambas:Video CNN]

(skt/dzu)






Source

Editor

CEO PSIS Yoyok Sukawi Janji tak akan Calonkan Diri Jadi Ketum atau Exco PSSI di KLB – Kabar Olahraga

Previous article

SMRC: PDIP Menguat, Demokrat Stagnan, Partai Lain Melemah – Kabar Politik

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Ekonomi